Kuatkan SDM Pengembangan Usaha Mustahik, Pendamping Program Ikuti Workshop

Dalam rangka meningkatkan kapasitas SDM dibidang pengembangan bisnis serta upaya memfasilitasi mustahik dalam mengakses pemasaran digital, tim Pengembangan Bisnis dan kemitraan bersama dengan pendamping program mengikuti program seminar dan workshop “Gerobak Maya” (Selasa, 10/9). Kegiatan yang diinisiasi oleh Bekraf bekerjasama dengan go food ini bertujuan untuk meluaskan pasar UKM khususnya dibidang kuliner. Data dari Bekraf menjelaskan bahwa pelaku usaha kuliner menempati urutan terbesar dari perputaran usaha kreatif yaitu sebesar 40%, dengan demikian pelaku usaha kuliner perlu mendapatkan stimulus berupa akses pemasaran digital agar mereka mampu mengikuti derasnya arus perkembangan zaman.

Sejalan dengan uraian diatas maka LPEM BAZNAS selaku lembaga yg mendukung pertumbuhan ekonomi mustahik terus berupaya mendorong pengembangan usaha mustahik dengan mengintegrasikan kegiatan workshop tersebut kepada para pendamping selaku ujung tombak pemberdayaan yang ada. Para pendamping program diharapkan kedepannya mampu memfasilitasi dan mengarahkan mustahik dalam mengembangkan usahanya melalui digital marketing.

Segala persiapan pun dilakukan sebelum mulai memasarkan produk dan usaha kuliner mustahik ke digital marketplace, seperti mengembangkan produk terlebih dahulu dari segi kualitas produk, kuantitas, desain kemasan dan penguatan branding. Selain itu mustahik juga perlu diberikan sosialiasi pentingnya keempat hal tersebut sebelum masuk ke pasar digital, karena kecilnya tingkat kepercayaan konsumen dalam online shop menjadi salah satu kendala besar yang harus diatasi oleh tim pengembangan bisnis dan kemitraan LPEM BAZNAS. Berdasarkan hal tersebut, maka peran penting pendamping pogram sangat diperlukan dalam melaksanakan persiapan yang sudah direncanakan demi tercapainya empat aspek pengembangan produk yang harus ditingkatkan sebelum masuk ke dalam marketplace.

Pencanangan Kampung Batik Cibuluh, Pesona Kekhasan Indonesia dari Kota Bogor

Kampung Cibuluh, Bogor Utara, Kota Bogor merupakan daerah yang akan dicanangkan sebagai kampung batik. Rencana pencanangan kampung ini sebagai Kampung Batik Bogor sampai saat ini belum pernah dirilis. Batik Bogor memang tidak setenar batik di daerah jawa lainnya seperti pekalongan contohnya, namun saat ini berbagai daerah telah membuat ciri khas motif batik sesuai dengan filosofi daerahnya masing-masing. Seperti Kota Bogor, motif batik yang dapat dimunculkan, yakni kujang, kijang, istana bogor, cibuluh, pala, dan masih terus dicari ciri khas lainnya. Adapun pengrajin batik di kota bogor masing terbilang sedikit dan bersifat perseorangan, saat ini terhitung 5 orang, itupun salah satunya sudah gulung tikar.

Salah satu pengrajin yang masih bertahan berada di Kampung Batik Cibuluh. Perkembangan Batik disini awalnya dimulai tahun 2015 oleh Dina dan Ibunya yang mengikuti pelatihan membatik dan memulai menjalankannya dirumah dengan brand Pancawati. Beliau belajar mendesign batik, mencanting dan mewarnai. Batik yang dibuat mulai dari batik tulis, batik cap hingga kombinasi dengan pewarnaan yang tidak hanya menggunakan pewarna sintetis tapi sudah menggunakan pewarna alami (kerjasama dengan LIPi). Bantuan dari berbagai pihak (salah satunya IPB) menyebabkan akhirnya adapat diadakan pelatihan membatik untuk Ibu-Ibu di kampung Cibuluh dan dibina langsung oleh Ibu Dina. Ibu-ibu membuat kelompok-kelompok kecil bersama (5 kelompok, 4-5 orang per kelompok), yang telah difasilitasi peralatan membatik pada setiap kelompok, seperti kompor canting, alat canting, canting cap, meja Cap, meja design dan bahan baku lainnya, dan hasil karya dari Ibu-ibu Cibuluh dititipkan untuk dijual oleh Bu Dina. Hal yang Menarik dari pelatihan ini adalah setiap kelompok didorong untuk membuat brand sendiri dengan membuat motif batik khas masing-masing kelompok.

Kedepannya diharapkan dikampung Cibuluh ini dapat diberdayakan lebih banyak Ibu-ibu dan anak muda yang melalukan aktivitas membatik dan menjadikan kampung Cibuluh menjadi Kampung Batik dengan berbagai aktivitas, baik dari segi wisata batik, maupun wisata instagramable. Beberapa rumah sekitar juga sudah mengizinkan jika tembok rumahnya boleh di cat dengan ornamen batik. Kampung Cibuluh ini bersebelahan dengan markas brimob Bogor, yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai pedagang makanan dan pekerja pabrik. Namun setelah akses utama melalu markas brimob ditutup, kesempatan usaha berkurang dan bahkan banyak yang tutup. Dengan akan dicanangkannya sebagai kampung batik ini dapat ditumbuhkan kembali perekonomian kampung. Usaha kreatif lainnya yang masih berjalan dikampung ini namun masih terbatas yakni, konveksi, bros, dan lukisan daun jati. Dengan adanya kampung batik ini, tidak hanya usaha batik bogor yang meningkat tapi juga usaha lainnya di sekitar Kampung Cibuluh dapat meningkat karena menjadi kampung wisata batik.

Pada 16 Juli 2019, pendamping program melaksanakan sosialisasi dengan masyarakat kampung Cibuluh untuk pencanangan Kampung Batik bersama BAZNAS. Kegiatan ini dihadiri oleh tokoh penting seperti Pak Lurah Cibuluh dan jajarannya, Ketua RW 4, Ketua RT 1,2,3,4, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, dan Ibu-Ibu, serta Kepala LPEM BAZNAS yang juga turut menghadiri sosialisasi ini. Dalam hal ini seluruh peserta yang hadir mendukung dan menyetujui dilaksanakannya kegiatan ini. Kepala Lurah berjanji bahwa akan mendorong Kegiatan ini pada pemkot kota Bogor untuk mendukung kegiatan ini, dan tidak lupa tokoh masyarakat juga akan membantu mendorong semangat dari masyarakat untuk berpatisipasi dalam kegiatan ini. Adapun tindak lanjut dari kegiatan ini adalah pembentukan panitia pelaksana oleh para pemuda, penyusunan rencana aktivitas dan anggaran.

Rencana Tindak Lanjut:

Pertemuan Rutin Kelompok ZMART Rawajati sebagai Sarana Membangkitkan Perekonomian Mustahik Melalui Ritel

Pertemuan rutin pertama kelompok usaha ZMART Latansa Rawajati diikuti oleh 9 Peserta pada hari Rabu, 17 Juli 2019, pada kesempatan ini para anggota kelompok saling berkenalan satu sama lain dan saling menyampaikan keadaan usahanya, berdasarkan hasil penyampaian tersebut pembekalan pun diberikan oleh pendamping mulai dari edukasi konsep ritel, pembukuan, pemutaran dana dan pemantapan IT.

Para anggota merasa nyaman dalam menceritakan masalah dan kendala yang dihadapi selama ini, sehingga pendamping pun dapat memberikan solusi yang dapat diterapkan oleh anggota kelompok secara lugas dan panjang. Pertemuan yang direncanakan selama 1 jam pun menjadi 3 jam dengan pembahasan-pembahasan menarik dalam bentuk diskusi dan brainstorming

Tahap selanjutnya yang dilakukan Pendamping Program ZMART adalah memberikan tugas dalam bentuk pembukuan per kategori item (terbagi menjadi 3 kategori, yaitu Ritel, Non Ritel, dan Pulsa) yang harus dilakukan setiap anggota per harinya, dan dilaporkan per jumat setiap minggunya. Dalam penyampaiannya, pendamping berharap dengan adanya pembekalan ini para mustahik dapat menerapkan ilmu yang diberikan sehingga dapat mengembangkan usahanya dengan pesat.

OPEN RECRUITMENT PENDAMPING PROGRAM WILAYAH

Bismillah,
Assalamu’alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh
.
JOIN OUR TEAM !!
.
Kami membuka kesempatan berkarir bagi Anda yang memiliki jiwa semangat tinggi dan menyukai tantangan untuk bergabung dalam tim LPEM BAZNAS sebagai Pendamping Program Wilayah
.
Adapun kriteria dapat dilihat pada gambar tersebut diatas.
.
So ? Tunggu apalagi daftarkan diri Anda segera melalui google.form dibawah ini ⬇⬇
.
✔ http://bit.ly/pendampinglpem
.
⚠ Proses pendaftaran akan ditutup secara otomatis apabila kuota Pelamar sudah terpenuhi.
.
Jazaakumullahu Khayran 😊

LPEMBAZNAS #BAZNAS #baznasindonesia #mustahik #zakattumbuhbermanfaat #zakat #infaq #muzakki #amil #amanah #loker #oprec #openrecruitment

Kegiatan Konsolidasi Pendamping Program LPEM

Pada tanggal 5 Juli 2019, dilaksanakan kegiatan *Konsolidasi Pendamping Program LPEM* yang dihadiri oleh 8 orang pendamping program Mustahik Pengusaha, ZMart, dan Lumbung pangan untuk membahas perencanaan dan aktivitas program selama 6 bulan ke depan, yakni terkait:
1. Perencanaan realisasi program, terkait anggaran, penerima manfaat dan wilayah periode semester kedua tahun 2019
2. Perencanaan aktivitas pendampingan (target capaian perkembangan usaha mustahik)
3. Penyampaian silabus materi pertemuan kelompok. 
4. Pelaporan Program

Selain itu diulas kembali tentang konsep program, urgensi pendampingan dan peran pendamping. Mengingat pentingnya peran pendamping sebagai ujung tombak Lembaga Program, pendamping dituntut harus bisa mengarahkan, memberi motivasi, memberi solusi dan menfasilitasi para penerima manfaat.

Tim pendamping Program Lumbung Pangan
Tim Pendamping Program Mustahik Pengusaha
Tim Pendamping ZMART

Pelaksanaan Sosialisasi Program ZMART di Bandung

Pada tanggal 3 Juli 2019 di Kabupaten Bandung, Bandung telah dilaksanakan sosialisasi program ZMART berkat kerjasama antara BAZNAS Pusat, BAZNAS Provinsi Jabar, dan BAZNAS Kab.Bandung.

Acara ini dihadiri oleh masing-masing perwakilan dari baznas dan 20 calon Mustahik penerima manfaat. Dalam sosialisasi ini Baznas menyampaikan konsep dan tahapan program ZMART kepada calon Mustahik. Setelah mendapat pengarahan dari Tim Baznas, Tindaklanjut dari sosialisasi ini adalah proses seleksi dan intervensi program. 

Sosialisasi Konsep dan tahapan program ZMART oleh Baznas kepada 20 calon Mustahik


BAZNAS Pusat bersama BAZNAS Jabar akan menginisiasi kegiatan ZMART di Jawa Barat dimulai di 5 kab/kota, yakni, indramayu, garut, KBB, Kab. sukabumi, Kab. bandung. Selanjutnya BAZNAS Jabar akan dilakukan pertemuan lebih lanjut untuk membahas program ini.

www.lpembaznas.com

Halal Bil Halal dan Sosialisasi Pembentukan Koperasi Petani

Karawang, (23/06/19). Bertempat di Rumah Makan Mang Ajo Karawang, petani binaan BAZNAS yang tergabung dalam Kelompok Hipanusa mengadakan Halal Bil Halal. Acara tersebut diisi dengan silaturahmi seluruh petani, pendamping, LPEM, dan mitra kerjasama program dari Himpunan Pengusaha Nahdliyin Karawang.

Hadir dalam acara tersebut Pembina HPN Bapak H. Tabroni, Wakil Ketua 1 HPN Bapak Asep, Wakil Ketua 5 HPN Bapak Gatot, Kepala LPEM, Pembina Petani HPN Bapak Edi, dan para petani binaan BAZNAS.

Selain silaturahmi, acara tersebut dimanfaatkan untuk sosialisasi tentang rencana pengembangan program Lumbung Pangan BAZNAS wilayah Karawang, yaitu pembentukan koperasi petani. Koperasi petani tersebut merupakan bagian dari perencanaan BAZNAS dalam rangka mewujudkan kemandirian petani secara kelembagaan yang salah satu tujuannya adalah untuk memperkuat aspek produksi, distribusi, dan pemasaran hasil pertanian di Lumbung Pangan Karawang.

Koperasi yang dibentuk akan menjalankan usaha di bidang pertanian, seperti budidaya padi, penggilingan padi, pemasaran padi, pemasaran sarana produksi, dan produksi pupuk Marolis. Dengan adanya berbagai usaha tersebut diharapkan petani dapat meningkatkan pendapatannya melalui penjualan hasil budidaya padi dan pembagian sisa hasil usaha koperasi.

Petani Binaan BAZNAS Serahkan Zakat 6,8 Ton

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengembangkan program pemberdayaan bagi para petani mustahik di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Program ini dikembangkan dalam upaya peningkatan ekonomi dan kesejahteraan para petani Indonesia dengan memanfaatkan dana zakat, infak dan sedekah.

Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo mengatakan, salah satu daerah yang dikembangkan program ini ialah di Kampung Tipar Kolot, Desa Medalsari, Kecamatan Pangkalan Kabupaten Karawang yang pada Senin (15/4) ini telah memasuki panen raya perdana. Hasil panen dari lahan seluas 12,5 hektar yang digarap oleh Kelompok Tani Hipanusa ini pun cukup signifikan.

“Hasil panen yang meningkat cukup signifikan ini membuat petani merasa bahagia dan makin bersemangat mewujudkan Lumbung Pangan di Karawang,” kata Ketua BAZNAS, Bambang Sudibyo di sela panen raya bersama para petani.

Program pemberdayaan ekonomi yang dikembangkan BAZNAS di Karawang telah dimulai sejak Oktober 2018, dilanjutkan dengan masa tanam padi mulai Desember 2018. Melalui Program Lumbung Pangan, BAZNAS memberikan sarana produksi pertanian dan perkebunan, sewa lahan, teknologi, akses pemasaran serta pendampingan ketat. Hasilnya, panen petani mengalami kenaikan rata-rata 34 persen. Hasil panen sebelum menerima manfaat program Lumbung Pangan BAZNAS rata-rata hanya 50,6 ton, kini menjadi rata-rata 68,2 ton setelah menerima manfaat program tersebut.

“BAZNAS memiliki perhatian yang tinggi pada peningkatan kualitas kehidupan petani, peternak, nelayan dan buruh-buruh perkebunan yang masuk dalam kategori mustahik. Zakat hadir untuk menyejahterakan mereka,” kata Bambang lewat siaran pers, Senin (15/4).

Ia menambahkan, program ini dikembangkan di berbagai daerah di Indonesia. Di Karawang, program dilaksanakan di sejumlah titik, seperti di Desa Pangulah Kecamatan Kota Baru, Desa Cintaasih dan Desa Medalsari Kecamatan Pangkalan, dan Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Timur.

Ketua Kelompok Tani Hipanusa, Misna Suryana mengatakan, panen padi kali ini merupakan yang terbaik selama pengalaman puluhan tahun ia menjadi petani.

“Biasanya dari lahan 1,5 hektar yang saya garap paling banyak menghasilkan padi 9 ton. Alhamdulillah panen kali ini bisa mencapai 14,5 ton. Saya sempat tak percaya tapi sangat bersyukur,” katanya.

Ia mengungkapkan terimakasih kepada para Muzaki yang telah menunaikan zakatnya melalui BAZNAS sehingga Lumbung Pangan di desanya dapat terwujud.

Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS, Dr. Irfan Syauqi Beik mengatakan, program pemberdayaan BAZNAS di Karawang memberdayakan sebanyak 23 petani dengan luas lahan garapan 23.5 hektar.

BAZNAS mengembangkan Lumbung Pangan di Karawang dengan mengedepankan proses ramah lingkungan. Konsep pertanian berkelanjutan dengan menerapkan organik. BAZNAS telah bekerja sama dengan PT. Hikmah Pangan Nusantara (HIPANUSA) sebagai pendampingan teknologi budi daya dengan pupuk organik Marolis.

Ia menjelaskan, program yang dikembangkan BAZNAS ini mampu meningkatkan pendapatan para mustahik, saat ini peningkatan panen dibarengi pendapatan hasil panen rata-rata sebesar Rp. 2.850.000 per bulan dari pendapatan rata-rata sebelumnya Rp. 1.037.000 tiap bulannya. Pendapatan tersebut masih lebih tinggi dari Garis kemiskinan Kabupaten Karawang tahun 2019 yakni Rp 1.564.758.

Peningkatan pendapatan ini juga turut dipengaruhi oleh harga jual (GKG) yang semula Rp. 4.500/kg menjadi Rp. 5.000/kg.

“Petani di Karawang ini juga bisa sangat inspiratif. Meningkatnya hasil panen menjadikan petani sudah mampu membayar zakat berupa beras ke dhuafa atau ke masjid di tempat tinggalnya. Zakat yang mereka keluarkan sebesar 6.8 ton,” kata Irfan.

Sumber : gatra.com

Tugiyem membangun asa

Ada yang beda saat anggota kelompok ternak Berkah Makmur berkumpul. Ada satu sosok yang mencuri perhatian, seorang ibu yang duduk di antara bapak-bapak anggota. Ia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok ternak yang berlokasi di Magelang tersebut. Tugiyem namanya, ibu dua anak yang sudah harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika anak pertamanya menginjak kelas 2 SD, suami tercinta meninggal karena kecelakaan. Hal tak terduga namun ia harus tetap bertahan untuk anak-anaknya. Mengelola kebun peninggalan suami dan kerja serabutan ia lakukan, yang penting anaknya bisa makan, bisa sekolah

Dalam anggota kelompok Tugiyem, mempunyai kewajiban yang sama dengan anggota lainnya meskipun perempuan, kecuali ronda malam. Tiap empat hari sekali ia harus mencari rumput untuk kambing kelompok. ‘saya sama dengan bapak-bapak, mencari rumput tiap empat hari sekali sesuai jadwal yang sudah di sepakati. Klo ronda sih nggak, kasihan anak-anak dirumah sendirian. Paling kadang bantu bersih2 kandang dan ngasih makan kalo siang” tuturnya.

Ia tidak menyangka bisa ikut bergabung “Awalnya pak kadus ke rumah, mbak bantuan ternak dari BAZNAS katanya. Mau ikut nggak. Mau pak”. ceritanya menggunakan bahasa jawa. Ia mengikuti Latihan wajib Kelompok selama 3 hari tanpa bolos, yang memang manjadi persyaratan jika ingin menjadi anggota kelompok. Sampai akhirnya bantuan itu benar-benar datang. Melihat ternak-ternak di kandang ia teringat masa lalu, ketika masih bekerja di tempat asalnya di Temanggung Jawa Tengah. Kisah yang memberikan dorongan semangat untuk berkiprah di kelompok ternak. “Melihat ternak-ternak ini jadi inget waktu bekerja. Dulu sehabis gajian, saya belikan orang tua saja 2 ekor kambing. Due ekor tersebut dipelihara dengan baik oleh orang tua, sampai akhirnya dijual semua. Hasil penjualannya dibelikan sapi, dipelihara dipelihara dijual lagi. Hasilnya dibelikan tanah, sampai sekarang masih ada tanahnya. Saya pingin nanti ternak-ternak ini bisa hasil seperti itu (berhasil)”. Kisah Tugiyem mengingat masa lalunya.

Kisah sukses orangtunya ingin ia wujudkan, ia pernah beternak kambing juga di tahun 2010 namun belum berhasil. Ia banyak belajar di kelompok ini, “Dulu saya waktu melihara kambing, setiap kambing ngembek saya kasih makan, sehari bisa 5 karung karung. Baru tau klo ngasih makan ada waktu-waktunya.” ceritanya tersenyum. Ia merasa banyak pelajaran yang ia dapatkan semenjak bergabung dengan kelompok, ia ingin terus belajar dan membangun mimpinya kembali.

“Saya berharap kelompok ini berhasil. Saya selalu berdoa setiap selesai sholat untuk keberhasilan kelompok ini. Sehingga saya bisa menyekolahkan anak-anak saya”. ungkap Tugiyem penuh harap.

Panen Lele Program Mustahik Pengusaha di Bekasi

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama para mustahik di Kampung Bakung, Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran,  Kabupaten Bekasi melakukan panen lele bersama, pada Senin, (21/1). Panen lele ini merupakan hasil dari program pemberdayaan Mustahik Pengusaha yang sudah berjalan sejak 2018 lalu.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) Baznas, Ajat Sudrajat mengatakan, Baznas melakukan pemberdayaan kepada para peternak lele dengan memberikan modal usaha, dan pendampingan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para mustahik.

“Program Mustahik Pengusaha Baznas adalah, program pemberdayaan ekonomi bagi para mustahik baik yang akan, atau sudah menjalankan usahanya. Program ini mengembangkan para mustahik pelaku Usaha Mikro Kecil (UKM),” katanya  Senin (21/1).

Ia menjelaskan, di Kampung Bakung, Kabupaten Bekasi, Baznas melakukan pemberdayaan kepada para peternak lele, yang programnya sudah berjalan sejak 2018. Peternak lele yang diberdayakan Baznas sebanyak 23 KK penerima manfaat. Modal yang diberikan dipergunakan untuk pembuatan kolam bioflok, pembelian bibit dan pakan lele.

“Bibit lele yang disebar sebanyak 46 ribu ekor, dan yang bertahan hidup kurang lebih sekitar 80 persennya. Para peternak lele yang diberdayakan Baznas ini, sehingga pendapatan keseluruhan yang diperoleh adalah  Rp 90.372.000,” katanya.

Dari hasil panen tersebut pendapatan penerima manfaat yang sebelumnya Rp. 2.400.000 menjadi 3.274.965 per bulan.