Tugiyem membangun asa

Ada yang beda saat anggota kelompok ternak Berkah Makmur berkumpul. Ada satu sosok yang mencuri perhatian, seorang ibu yang duduk di antara bapak-bapak anggota. Ia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok ternak yang berlokasi di Magelang tersebut. Tugiyem namanya, ibu dua anak yang sudah harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika anak pertamanya menginjak kelas 2 SD, suami tercinta meninggal karena kecelakaan. Hal tak terduga namun ia harus tetap bertahan untuk anak-anaknya. Mengelola kebun peninggalan suami dan kerja serabutan ia lakukan, yang penting anaknya bisa makan, bisa sekolah

Dalam anggota kelompok Tugiyem, mempunyai kewajiban yang sama dengan anggota lainnya meskipun perempuan, kecuali ronda malam. Tiap empat hari sekali ia harus mencari rumput untuk kambing kelompok. ‘saya sama dengan bapak-bapak, mencari rumput tiap empat hari sekali sesuai jadwal yang sudah di sepakati. Klo ronda sih nggak, kasihan anak-anak dirumah sendirian. Paling kadang bantu bersih2 kandang dan ngasih makan kalo siang” tuturnya.

Ia tidak menyangka bisa ikut bergabung “Awalnya pak kadus ke rumah, mbak bantuan ternak dari BAZNAS katanya. Mau ikut nggak. Mau pak”. ceritanya menggunakan bahasa jawa. Ia mengikuti Latihan wajib Kelompok selama 3 hari tanpa bolos, yang memang manjadi persyaratan jika ingin menjadi anggota kelompok. Sampai akhirnya bantuan itu benar-benar datang. Melihat ternak-ternak di kandang ia teringat masa lalu, ketika masih bekerja di tempat asalnya di Temanggung Jawa Tengah. Kisah yang memberikan dorongan semangat untuk berkiprah di kelompok ternak. “Melihat ternak-ternak ini jadi inget waktu bekerja. Dulu sehabis gajian, saya belikan orang tua saja 2 ekor kambing. Due ekor tersebut dipelihara dengan baik oleh orang tua, sampai akhirnya dijual semua. Hasil penjualannya dibelikan sapi, dipelihara dipelihara dijual lagi. Hasilnya dibelikan tanah, sampai sekarang masih ada tanahnya. Saya pingin nanti ternak-ternak ini bisa hasil seperti itu (berhasil)”. Kisah Tugiyem mengingat masa lalunya.

Kisah sukses orangtunya ingin ia wujudkan, ia pernah beternak kambing juga di tahun 2010 namun belum berhasil. Ia banyak belajar di kelompok ini, “Dulu saya waktu melihara kambing, setiap kambing ngembek saya kasih makan, sehari bisa 5 karung karung. Baru tau klo ngasih makan ada waktu-waktunya.” ceritanya tersenyum. Ia merasa banyak pelajaran yang ia dapatkan semenjak bergabung dengan kelompok, ia ingin terus belajar dan membangun mimpinya kembali.

“Saya berharap kelompok ini berhasil. Saya selalu berdoa setiap selesai sholat untuk keberhasilan kelompok ini. Sehingga saya bisa menyekolahkan anak-anak saya”. ungkap Tugiyem penuh harap.

Panen Lele Program Mustahik Pengusaha di Bekasi

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) bersama para mustahik di Kampung Bakung, Desa Karangpatri, Kecamatan Pebayuran,  Kabupaten Bekasi melakukan panen lele bersama, pada Senin, (21/1). Panen lele ini merupakan hasil dari program pemberdayaan Mustahik Pengusaha yang sudah berjalan sejak 2018 lalu.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Ekonomi Mustahik (LPEM) Baznas, Ajat Sudrajat mengatakan, Baznas melakukan pemberdayaan kepada para peternak lele dengan memberikan modal usaha, dan pendampingan dalam meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan para mustahik.

“Program Mustahik Pengusaha Baznas adalah, program pemberdayaan ekonomi bagi para mustahik baik yang akan, atau sudah menjalankan usahanya. Program ini mengembangkan para mustahik pelaku Usaha Mikro Kecil (UKM),” katanya  Senin (21/1).

Ia menjelaskan, di Kampung Bakung, Kabupaten Bekasi, Baznas melakukan pemberdayaan kepada para peternak lele, yang programnya sudah berjalan sejak 2018. Peternak lele yang diberdayakan Baznas sebanyak 23 KK penerima manfaat. Modal yang diberikan dipergunakan untuk pembuatan kolam bioflok, pembelian bibit dan pakan lele.

“Bibit lele yang disebar sebanyak 46 ribu ekor, dan yang bertahan hidup kurang lebih sekitar 80 persennya. Para peternak lele yang diberdayakan Baznas ini, sehingga pendapatan keseluruhan yang diperoleh adalah  Rp 90.372.000,” katanya.

Dari hasil panen tersebut pendapatan penerima manfaat yang sebelumnya Rp. 2.400.000 menjadi 3.274.965 per bulan.

Bangkitkan ekonomi masyarakat ibu kota, BAZNAS Luncurkan ZMART di Jakarta

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) mengembangkan warung Z-Mart di Jabodetabek yang memberdayakan para mustahik dalam meningkatkan eksistensi dan kapasitas usaha ritel mikro di tengah-tengah tantangan usaha ritel skala besar. Anggota BAZNAS, Irsyadul Halim mengatakan, jaringan ritel Z-Mart yang tersebar di Jabodetabek hadir di tengah-tengah masyarakat, keunggulannya adalah menjual keperluan rumah tangga dengan harga murah serta memberdayakan para mustahik untuk meningkatkan kesejahteraan.

“BAZNAS mengembangkan Z-Mart yang tersebar di banyak wilayah di Jabodetabek. Pengembangan Z-Mart sebagai wujud BAZNAS dalam upaya meningkatkan derajat para mustahik salah satunya melalui pemberdayaan ekonomi,” katanya. Pada kesempatan kali ini, BAZNAS kembali meluncurkan Z-Mart di Kampung Melayu Kelurahan Bukit Duri Kecamatan Tebet, Jakarta Selatan pada Jumat, (18/1/2019).

Kegiatan ini juga dalam rangka memperingati Milad BAZNAS yang ke-18 pada 17 Januari 2019. Program pemberdayaan dengan mengembangkan warung Z-Mart ini dengan memberikan bantuan modal usaha, di Kampung Melayu, terdapat 11 mustahik diberi modal sebesar total Rp99.000.000. Selain memberikan modal usaha, BAZNAS juga membantu melakukan branding dan pendampingan untuk memajukan usahanya. “Bantuan modal usaha ini diberikan dalam bentuk barang dagangan, bahan baku produksi, peralatan produksi, dan perbaikan alat usaha serta branding produk, serta tempat usaha. BAZNAS berharap, dengan ini usaha para mustahik bisa lebih berkembang dan bisa mensejahterakan kehidupan mereka,” katanya.

Irsyad menambahkan, program pemberdayaan warung ritel mikro atau Z-Mart, diharapkan bisa meningkatkan omzet rata-rata warung dari Rp750.000,- per hari atau Rp22.500.000,- per bulan menjadi Rp1.000.000,- per hari atau Rp30.000.000,- per bulan. Dari omzet tersebut diharapkan bisa meningkatkan pendapatan bersih setiap hari dari Rp100.000,- per hari menjadi Rp135.000,- per hari. Dengan keuntungan tersebut terjadi peningkatan pendapatan per bulan sebesar 35%, yang awalnya Rp3.000.000,- menjadi Rp4.050.000,-. Pendapatan tersebut lebih tinggi sekitar 3% dibandingkan dengan UMP DKI Jakarta tahun 2019.

BAZNAS Kembangkan Lumbung Pangan di Karawang

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan program Lumbung Pangan meningkatkan pendapatan petani di kawasan industridi Kabupaten Karawang.

Sementara itu, BAZNAS meningkatkan pendapatan masyarakat petani di sekitar kawasan industri Karawang melalui program Lumbung Pangan.Selain kota industri, Karawang juga identik dengan penghasil padi nasional.

“Melalui program Lumbung Pangan, mustahik di sekitar kawasan industri lebih diberdayakan untuk dapat meningkatkan pendapat melalui bantuan modal usaha dan pendampingan teknologi,” kata Nasir.

Lumbung Pangan Karawang terdiri atas 3 kelompok, tersebar di 3 lokasi, yakni Desa Pangulah Kecamatan Kota Baru, Desa Cintaasih Kecamatan Pangkalan, dan Desa Karangligar Kecamatan Telukjambe Timur.

Total penerima manfaat sebanyak 23 petani dengan luas lahan 24 ha dari 30 ha yang ditargetkan.

BAZNAS mengembangkan Lumbung Pangan dengan mengedepankan proses ramah lingkungan. Konsep pertanian berkelanjutan dengan menerapkan sistem pertanian sehat. BAZNAS bekerja sama dengen PT. Hikmah Pangan Nusantara (HIPANUSA) sebagai pendampingan teknologi budidaya dengan pupuk organik hasil penelitian salah satu ahli pertanian organik.

Kegiatan budidaya tanaman padi para petani saat ini masih bersifat konvensional dengan memanfaatkan pupuk dan pestisida kimia untuk mempercepat pertumbuhan, namun sebenarnya dapat mempercepat kerusakan lahan.

Pendampingan yang dilakukan berupa teknis budidaya, aplikasi pupuk organik, aplikasi pestisida nabati dan teknik bercocok tanam yang sesuai standar pertanian sehat.

Dengan menerapkan pertanian sehat, tentunya beras yang dihasilkan bebas dari kandungan pestisida atau bahan kimia, sehingga beras yang dihasilkan lebih sehat dan berkualitas.

Rata-rata luasan garapan petani saat ini seluas 1-1,5 ha per petani dengan rata-rata hasil panen jika secara konvensional rata-rata 5 ton/ha GKP dengan harga sebesar Rp 4.500/kg. Namun jika menggunakan sistem pertanian sehat, akan meningkatkan hasil panen GKP sekitar 1-2 ton per ha menjadi 6-7 ton dan terus bertambah hingga musim tanam ke 3 dengan target hingga mencapai 9 ton per ha dan harga GKP meningkat menjadi Rp 5.000/kg.

Rata-rata pendapatan para petani dari jumlah keseluruhan sebelum dibantu BAZNAS sebesar Rp 2.621.700, masih di bawah standar upah minimum daerah Kabupaten Karawang.

Setelah aplikasi pertanian sehat diharapkan pada musim tanam ke 3 peningkatan penghasilan rata-rata petani petani menjadi sebesar Rp 4.714.728, lebih tinggi jika dibandingkan dengan garis kemiskinan Nasional tahun 2018 (Rp 1.564.758,-) dan UMK Kabupaten Karawang tahun 2019 yakni Rp 4.234.010.

Selama program berjalan, BAZNAS akan melakukan pendampingan secara intensif selama minimal 2 tahun. Pendamping ditempatkan di lokasi program dan membaur serta tinggal di lokasi program. Pendamping akan menjadi motivator, fasilitator, dan mediator untuk mengembangkan masyarakat dalam hal teknis bertani, kelembagaan, organisasi, mental spiritual, dan pengembangan agribisnis.

“Dengan adanya pendampingan tersebut, ditargetkan bisa mewujudkan kemandirian, yakni pada aspek ekonomi, mental spiritual dan kelembagaan,”ujar Nasir. (*)

Sumber : http://www.tribunnews.com/nasional/2018/12/20/baznas-kembangkan-z-mart-dan-lumbung-pangan-di-karawang?page=3.

Kembangkan Ekonomi Masyarakat Karawang, BAZNAS Luncurkan Program ZMART

Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) meluncurkan Z-Mart untuk meningkatkan pendapatan mustahik pemilik usaha ritel mikro di Kabupaten Karawang.

“Z-Mart adalah program pemberdayaan ekonomi mustahik BAZNAS untuk meningkatkan eksitensi dan kapasitas usaha retail mikro skala usaha mustahik binaan BAZNAS dapat terangkat. Hadirnya program ini diharapkan agar membentuk sebuah gerakan untuk berbelanja di warung kelontong. Sehingga omset mustahik pemilik warung akan terus meningkat,” ujar Direktur Pendistribusian dan Pendayagunaan BAZNAS, Mohd Nasir Tajang di Karawang, Jawa Barat, Kamis (20/12/2018).

Z-Mart di kawasan ini menjadi awal kerja sama program tersebut di Provinsi Jabar untuk 21 mustahik.

Saat ini Z-Mart di Jawa Barat berjumlah 121 titik dan secara nasional mencapai 166 titik yang tersebar di Bogor, Depok, Bekasi, Tangerang Selatan, Bandung, Lombok dan Langkat.

“BAZNAS akan terus berupaya untuk mengembangkan usaha mikro dengan modal dari dana zakat,” ucap dia.

Z-Mart yang dikembangakan Lembaha Pemberdayaan Ekonomi Mustahik BAZNAS, merupakan salah satu upaya meningkatkan nilai kompetitif warung usaha mikro dengan memfasilitasi perbaikan tempat jualan, pelatihan manajemen dan sistem keuangan serta pendampingan.

Fasilitas lain yang akan dinikmati pelanggan Z-Mart adalah pelayanan berbagai jenis pembayaran melalui Payment Point Online Bank (PPOB) diharapkan dapat bersinergi program pemerintah sebagai warung penyalur Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT).

Rata-rata pendapatan omset warung ZMART dari jumlah keseluruhan sebelum dibantu BAZNAS sebesar Rp 500.000/hari, atau pendapatan sebesar Rp 1.500.000/bulan yang masih di bawah standar upah minimum daerah Kabupaten Karawang.

Setelah mendapatkan tambahan modal dan pendampingan diharapkan omset meningkat menjadi rata-rata Rp 1.200.000-1.500.000/hari atau pendapatan sebesar Rp. 4.500.000/bulan.

Jumlah pendapatan ini diperoleh dari hasil penjualan warung, margin penyaluran BPNT, dan keuntungan PPOB. Pendapatan ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan garis kemiskinan Nasional tahun 2018 (Rp 1.564.758) dan UMK Kabupaten Karawang tahun 2019 yakni Rp 4.234.010.

Program pendampingan Z-Mart ini diharapkan bisa mewujudkan kemandirian, yakni pada aspek ekonomi, mental spiritual dan kelembagaan. Selanjutnya untuk melakukan percepatan program ini, BAZNAS akan bersinergi dengan berbagai pihak, baik pemerintah daerah, BAZNAS prov/kab/kota untuk membantu semakin banyak warung usaha retail mikro yang mampu menopang perekonomian keluarga di berbagai daerah lainnya.

BAZNAS kembangkan Balai Ternak di Magelang

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) mengembangkan Balai Ternak di Dusun Dayugo, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis , Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Balai Ternak ini menerapkan model pemberdayaan ekonomi masyarakat yang diharapkan bisa mewujudkan kemandirian, pengentasan kemiskinan, dan modal masyarakat di masa depan.
Kepala Divisi Pendayagunan Baznas, Randi Swandaru mengatakan, pihaknya memberikan modal kepada masyarakat berupa pengadaan hewan ternak sebanyak 180 ekor domba induk betina, 18 ekor ekor domba pejantan, dan 225 ekor bakalan yang dikelola oleh 45 kepala keluarga. Sebagai inisiasi program telah disalurkan sebanyak 60 ekor induk domba betina dan 6 ekor domba pejantan dan 160 ekor bakalan kepada 20 kepala keluarga yang tergabung dalam kelompok peternak Balai Ternak ‘Berkah Makmur’.
“Dari target 180 ekor induk tersebut pada akhir tahun kedua diharapkan bisa menghasilkan minimal 720 ekor anak, sehingga terjadi penambahan populasi menjadi 918 ekor yang terdiri dari 180 ekor induk awal, 18 ekor pejantan, dan 720 ekor anak,” katanya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Selasa (11/12).
Ia menambahkan, dalam menjalankan program Balai Ternak ini, Baznas tidak hanya serta-merta memberikan hewan ternak saja. Baznas juga melakukan pendampingan berupa pelatihan, motivasi, fasilitasi, dan mediator. “Pendampingan secara intensif dilakukan selama dua tahun kedepan, Baznas juga akan membantu pendistribusian hewan ternak kepada para pembeli,” ucapnya.

Randi menjelaskan, Balai Ternak Baznas memadukan konsep perbibitan ternak dan penggemukan ternak dengan pemberdayaan masyarakat khususnya petani dan peternak kecil. Hasil perputaran bisnis penggemukan bakalan terjadi sebanyak empat kali dalam setahun.
Jumlah yang dijual setiap kali panen sebanyak 160 ekor, artinya dalam setahun, Balai Ternak Baznas bisa melakukan penjualan bakalan hasil penggemukan sebanyak 640 ekor. Menurutnya, dampak secara ekonomi bagi para peternak dari usaha peternakan yang dijalankan adalah peningkatan pendapatan peternak per bulan sebesar Rp 936.500.
Dengan penambahan pendapatan tersebut, peternak akan meningkat penghasilnya dari Rp. 1.324.750 menjadi Rp. 2.261.250. Sementara itu, UMK Kabupaten Magelang sendiri tahun 2019 adalah Rp. 1.882.000. “Jika dibandingkan dengan Garis Kemiskinan Nasional tahun 2018 yakni Rp. 1.845.612, penghasilan tersebut lebih tinggi sebesar 22,8 persen. Artinya, program Balai Ternak Baznas yang dijalankan, insyaAllah dapat membantu pemerintah mengentaskan kemiskinan atau menurunkan angka kemiskinan,” kata Randi.
Salah satu anggota Balai Ternak Baznas di Dusun Dayugo, Desa Banyusidi, Kecamatan Pakis , Kabupaten Magelang, Ibu Tikinem mengatakan, ia sangat bersyukur bisa tergabung dalam program ini. Menurutnya, semenjak suaminya meninggal, ia menjadi tulang punggung keluarga dan harus mencukupi kehidupan sehari-hari serta menyekolahkan anaknya.
Dari sekian anggota Balai Ternak Baznas, Ibu Tukinem merupakan satu-satunya anggota wanita. Ia berharap, Balai Ternak Baznas dapar membantu meningkatkan perekonomian warga dan bisa mensejahterakan masyarakat di Dusun Dayugo kedepannya. “Saya selalu berdoa tiap sholat, semoga usaha kelompok ini berhasil, bisa buat menyekolahkan anak-anak,” katanya.

Sumber : republika.co.id

Baznas Berdayakan Pedagang Bubur di Bekasi

Kepala Divisi Pendayagunaan BAZNAS, Randi Swandaru mengatakan, salah satu program Mustahik Pengusaha yang baru diluncurkan adalah di Desa Sukarahayu Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi Provinsi Jawa Barat. Rabu, (5/12).

“Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) melalui program Mustahik Pengusaha telah memberikan bantuan modal usaha dan pendampingan Mustahik Serta Branding kepada kelompok usaha Bubur ayam, di Desa Sukarahayu, Bekasi. Program ini memberikan bantuan modal usaha  kepada 15 orang dikelompok usaha Bubur ayam sebesar Rp. 75.000.000,-  atau Rp.5.000.000,- per orang,” katanya.

Ia menambahkan, pemberian modal usaha dilakukan dalam dua konsep, pertama, modal usaha diperuntukan bagi usaha harian pedagang bubur ayam, seperti perbaikan gerobak, pembelian peralatan usaha, dan pembelian bahan baku bubur. Kedua pemberian modal usaha diperuntukan untuk usaha bersama kelompok, yang terdiri dari 15 orang memiliki warung grosir yang menjual bahan baku penjualan bubur dengan potensi penjualan mencapai 500 orang.

“Rinciannya, Rp1 juta digunakan untuk modal awal belanja dan perbaikan gerobak, dan Rp4 juta untuk pembentukan usaha bersama/warung bersama yang menyediakan bahan baku bubur ayam dan lain-lain,” katanya.

Randi menjelaskan, penambahan modal mampu meningkatkan omset awal dari 200.000/hari menjadi 300.000/hari, menaikkan pendapatan pedagang dari 6.000.000/bulan menjadi 9.000.000/bulan. Keuntungan dengan kedua konsep ini, mustahik akan mendapatkan dua pemasukan, yang pertama dari dagang bubur keliling dan dari SHU/bagi hasil usaha kelompok yang mencapai 70 % dari keuntungan.

“Saat ini usaha bersama kelompok dari sehari omsetnya mencapai 2.000.000,-, Target penjualan toko perhari adalah 6.000.000 /hari dari pembelanjaan bahan baku bubur  15 anggota kelompok dan dari luar kelompok, dengan estimasi keuntungan 10 % diharapannya dengan konsep tersebut  bisa menaikkan pendapatan mustahik minimal 1 x umk atau senilai 3.800.000,” katanya.

BAZNAS juga melakukan pendampingan kepada para kelompok usaha di Desa Sukarahayu Kecamatan Tambelang Kabupaten Bekasi ini, dan menjadi salah satu faktor keberhasilan program untuk menjaga semangat mustahik dan memastikan usaha berjalan sesuai dengan rencana.

Kegiatan pendampingan ini dilakukan melalui 3 tahapan, yakni tahap perintisan terdiri dari penumbuhan dan pembentukan kelompok, tahap penguatan untuk menumbuhkan aktivitas usaha dan kelompok penerima manfaat dan tahap pemandirian.

“BAZNAS berharap, dengan Penyerahan bantuan modal usaha ini dapat memberikan peningkatan ekonomi atau taraf hidup tidak hanya kepada anggota di dalam kelompok tapi juga masyarakat sekitar tempat usaha,” kata Randi.

Sumber : baznas.go.id

Bendol dan Mimpi Makmur dari Jamur

Proses budidaya jamur merang memerlukan proses yang relative cepat, karena jamur bisa  di panen dalam jangka waktu 1 bulan. Namun proses ternyata tidak secepat itu, mulai pembersihan kumbung pasca panen, penyiapan bahan, siap untuk budidaya memerlukan waktu yang cukup lama. Mendol salah satu penerima manfaat Program Mustahik Pengusaha binaan BAZNAS menceritakan mengenai alur proses budidaya jamur dari awal hingga panen.

“Sebelum mulai (budidaya jamur) kumbung harus disiapan dulu. Dibersihin semua, bekas panen dikeluarin semua sampe bersih. Sembari itu,disiapin damen (jerami padi) jemur sampe kering, sampe bener-bener kering yak, klo nggak kering bisa numbuh yang lain” Jelas Mendol. Damen ia dapatkan dari hasil penen padi sekitar tempat tinggalnya di Kp. Kuda-kuda, Kec. Sukakarya, Kab. Bekasi. Di Kecamatan suka karya merupakan wilayah “lumbung pangan” di wilayah Bekasi, karena masih terdapat terhampar sawah yang luas walaupun beberapa sudah mulai beralih fungsi menjadi perumahan. Sebagian besar penduduknya pun masih bermata pencaharian sebagai petani. Mendol sendiri juga seorang petani, ia menggarap beberapa petak lahan pertanian yang ia garap sendiri dibantu oleh anaknya.

”Setelah damen kering, tambahin kapas sama air diaduk sampai rata habis itu tutup rapet sama plastik selama kurang lebih seminggu klo kata orang mah di fermentasi. Klo udah diemin aja jangan diapa-apain. Klo udah seminggu baru masukin kedalam kumbung, trus di uap pake ini (menunjukkan dua drum), drum ini ada selangnya nanti dimasukkan kesini (sambil menunjukkan lubang di kumbung). Drum diisi air lalu di bakar, nanti uapnya masuk ke kumbung,habis itu tutup rapat. Ini biar nggak ada jamur lain yang numbuh setelah itu diemin aja kira-kira seminggu tutup rapet jangan dibuka-buka. Baru masupin bibit tabur rata. Biarin aja selama sebulan, baru bisa di panen” lanjut Mendol menceritakan proses budidaya jamur dengan semangat.

Awalnya mendol cuman punya 1 kumbung, kemudian ia mendapat batuan dari BAZNAS senilai 4 juta rupiah. Modal yang gunakan untuk membuat kumbung lagi, buat nabung katanya.

“Dulu cuman punya satu kumbung (sambal nunjukin kumbung nya). Trus dapet bantuan, saya bikin kumbung satu lagi. Saya tambahin modalnya lagi,  buat beli bambunya, plastiknya. Blum modal awalnya beli merang, kapas, kapur. hasilnya nggak langsung saya ambil.  Dikit-dikit saya tabung saya bikin kumbung yang baru (sambil menunjuk kerangka kumbung setengah jadi). Klo satu dapetnya 1,5 kwintal klo 3 jadi 4,5 kwintal ( 1 Kwintal = 100 Kg),” tutur laki-laki 60 tahun ini.

 

Cara berfikirnya sedehana, kalo 1 kumbung paling sedikit dapetnya 1 kwintal, harga 1 kilonya 30 rb berarti dari satu kumbung ia bisa menghasilkan  3 juta . Kalo punya 3 kumbung, berarti ia mendapatkan 6 juta.

“Klo punya banyak kumbung kan duitnya tambah banyak” sambil tertawa.

Mendol dan keluarganya memang sudah berpengalaman lebih dari 10 th dalam budidaya jamur, sekarang ia juga megelola kumbung milik anaknya yang letaknya bersebelahan dengan kumbungnya. Mimpi ingin maKmur dari usaha jamurnya membuatnya terus berikhtiar walaupun sudah memasuki usia senja.

BAZNAS Kenalkan Ekonomi Zakat ke Dunia

Beberapa orang mungkin menganggap zakat hanya berlaku untuk umat Muslim. Namun,perlahan konsep tersebut mulai diterapkan secara global, mengingat zakat sendiri memiliki manfaat yang cukup besar, khususnya bagi masyarakat yang kurang mampu. Hal inilah yang diupayakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS).

Betapa tidak, BAZNAS mengajak dunia menerapkan ekonomi zakat dalam mengelola perekonomian global. Dengan zakat yang dikelola dengan ideal, akan meningkatkan kehidupan masyarakat miskin, bukan hanya dalam perekonomian tetapi juga meningkatkan spiritual. Hal ini pun disampaikan langsung Ketua BAZNAS, Prof Dr Bambang Sudibyo, MBA CA menyampaikan hal tersebut dalam Annual IMF-World Bank Group Meetings 2018 pada Cluster 3 “Inclusive Economic Growth: Reducing Poverty and Inequality” di Bali, Rabu (10/10).

Bambang menjadi pembicara bersama Senior Vice President World Bank, Dr Mahmoud Mohieldin, Direktur Wahid Institut, Yenny Zannuba Wahid dan Chief Economist and Director General of Economic Research and Regional Cooperation Departement ADB, Yasuyuki Sawada.

Dalam kesempatan tersebut, Bambang menyampaikan empat rekomendasi dalam pengelolaan zakat yang ideal.

“Menteri Keuangan pada seminar internasional di Yogyakarta tahun lalu mengatakan, pengumpulan zakat harus dikelola seperti cara mengelola pajak. BAZNAS sangat setuju dengan hal ini dengan konsekuensi empat hal,” katanya.

Lantas, apa saja empat hal tersebut? Pertama, Menurut Bambang, saat ini zakat masih menjadi pilihan untuk masyarakat yang telah memenuhi syarat sebagai muzaki. Seharusnya zakat menjadi kewajiban, seperti pada kewajiban pajak yang melekat pada masyarakat, baik individu maupun institusi. Adapun yang kedua adalah masalah hubungan zakat dengan pajak. Menurut Bambang, seharusnya zakat menjadi pengurang pajak, namun saat ini zakat masih menjadi pengurang penghasilan kena pajak.

“Ketiga, masalah zakat seharusnya tidak terdesentralisasi karena menyangkut masalah keuangan dan keagamaan,” ungkapnya.

Nah, rekomendasi terakhir ialah bahwa Undang-undang no. 23/2011 tentang pengelolaan zakat dan Undang-undang no. 26/2008 tentang pajak harus direvisi. Bambang mengatakan, pentingnya zakat dikelola seperti pajak ini karena manfaat zakat akan dua kali lipat lebih besar jika zakat telah diwajibkan oleh negara.

“Potensi zakat sangat bergantung dengan kebijakan insentif pajak. Potensi zakat dengan asumsi zakat sebagai pengurang pajak sebesar Rp217 Triliun pada 2010 atau sebesar 3,40% dari Produk Domestik Bruto. Namun dengan kondisi saat ini dimana zakat hanya sebagai pengurang penghasilan kena pajak, potensi zakat di tahun 2010 hanya sekitar Rp100 Triliun atau 1,57 dari produk domestik bruto,” jelasnya.

Sementara dengan perhitungan yang sama, pada 2017 potensi optimal dengan kebijakan insentif pajak zakat sebagai pengurang pajak, akan sebesar Rp462 triliun. Namun kenyataannya, zakat yang terhimpun hanya Rp6,2 triliun atau 2,92 persen dari potensi.

“Hal ini disebabkan kebanyakan perusahaan tidak mau membayar zakat karena tidak signifikan mengurangi pajak,” katanya.

Meski demikian, zakat tetap memberikan harapan besar. Peningkatan dari penghimpunan zakat ini jauh lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi yang hanya berkisar di angka 5,37 persen. Angka ini akan terus meningkat, karena pertumbuhan kelas muzaki dan trend hidup syariah yang semakin diminati. (Sumber : Dream.co.id)

Baznas Luncurkan Program Mustahik Pengusaha

Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) meluncurkan program Mustahik Pengusaha. Ini adalah program pemberdayaan ekonomi bagi mustahik yang akan atau sudah menjalankan usaha dari berbagai jenis produk.Program Mustahik Pengusaha diawali dengan pemberdayaan kelompok usaha budidaya lele dan tanaman terong di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat. Kepala Divisi Pendayagunaan Baznas, Randi Swandaru mengatakan, program ini bertujuan untuk mengembangkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sehingga mampu menjalankan usaha secara berkelanjutan.

“Jenis usaha yang dijalankan berupa usaha skala rumah tangga seperti makanan ringan, kue, turunan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. Kami juga mendukung bagi UMKM yang bergerak di bidang industri kreatif seperti batik, ukiran, konveksi, kerajinan tangan, desainer, periklanan, kesenian dan arsitektur,” katanya dalam keterangan tulis yang diterima Republika.co.id, Kamis (25/10).

Bantuan yang diberikan berupa modal usaha sebesar Rp 115 juta kepada 23 orang di kelompok budidaya lele di Kampung Bakung, Desa Karangpatri, Kecamatan Pabayuran. Sedangkan kelompok usaha pertanian budidaya terong di Desa Sukakerta, Kecamatan Sukawangi yang beranggotakan 25 orang memperoleh bantuan sebesar Rp 180,9 juta atau berkisar antara Rp 5 juta sampai dengan Rp 7 juta per orang.

“Bantuan modal untuk kelompok usaha budidaya lele akan digunakan untuk pembangunan kolam bioflok, pembelian benih lele, dan pengadaan pakan. Lokasi usaha kolam lele bioflok difokuskan pada satu lahan bersama,” katanya.

Sedangkan untuk usaha budidaya terong, modal usaha digunakan untuk pembelian bibit, pupuk, biaya perawatan dan penanganan pasca panen. Adapun dua kelompok usaha ini telah memiliki jaringan pasar sehingga anggota kelompok dapat lebih fokus dalam meningkatkan kualitas usaha dan disiplin dalam usaha yang dilaksanakan.

Dalam pelaksanaan program ini, tim Baznas melalui Lembaga Pengembangan Ekonomi Mustahik (LPEM) juga melakukan pendampingan. Kegiatan pendampingan ini menjadi salah satu faktor keberhasilan program untuk menjaga semangat mustahik dan memastikan usaha berjalan sesuai dengan rencana. Melalui kegiatan pendampingan ini, mustahik didorong untuk kreatif dan inovatif.

“Kegiatan pendampingan ini dilakukan melalui 3 tahapan, yakni tahap perintisan terdiri dari penumbuhan dan pembentukan kelompok, tahap penguatan untuk menumbuhkan aktivitas usaha dan kelompok penerima manfaat serta tahap pemandirian,” katanya.

Diharapkan dengan kegiatan peluncuran ini dapat memberikan motivasi usaha tidak hanya kepada anggota di dalam kelompok tapi juga masyarakat sekitar tempat usaha. “Selanjutnya untuk melakukan percepatan program ini, Baznas akan bersinergi dengan berbagai pihak, baik Pemerintah Daerah dan Baznas di daerah setempat untuk membantu mustahik keluar dari kemiskinan,” kata Randi.