Tugiyem membangun asa

Ada yang beda saat anggota kelompok ternak Berkah Makmur berkumpul. Ada satu sosok yang mencuri perhatian, seorang ibu yang duduk di antara bapak-bapak anggota. Ia adalah satu-satunya perempuan dalam kelompok ternak yang berlokasi di Magelang tersebut. Tugiyem namanya, ibu dua anak yang sudah harus berjuang sendirian untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Ketika anak pertamanya menginjak kelas 2 SD, suami tercinta meninggal karena kecelakaan. Hal tak terduga namun ia harus tetap bertahan untuk anak-anaknya. Mengelola kebun peninggalan suami dan kerja serabutan ia lakukan, yang penting anaknya bisa makan, bisa sekolah

Dalam anggota kelompok Tugiyem, mempunyai kewajiban yang sama dengan anggota lainnya meskipun perempuan, kecuali ronda malam. Tiap empat hari sekali ia harus mencari rumput untuk kambing kelompok. ‘saya sama dengan bapak-bapak, mencari rumput tiap empat hari sekali sesuai jadwal yang sudah di sepakati. Klo ronda sih nggak, kasihan anak-anak dirumah sendirian. Paling kadang bantu bersih2 kandang dan ngasih makan kalo siang” tuturnya.

Ia tidak menyangka bisa ikut bergabung “Awalnya pak kadus ke rumah, mbak bantuan ternak dari BAZNAS katanya. Mau ikut nggak. Mau pak”. ceritanya menggunakan bahasa jawa. Ia mengikuti Latihan wajib Kelompok selama 3 hari tanpa bolos, yang memang manjadi persyaratan jika ingin menjadi anggota kelompok. Sampai akhirnya bantuan itu benar-benar datang. Melihat ternak-ternak di kandang ia teringat masa lalu, ketika masih bekerja di tempat asalnya di Temanggung Jawa Tengah. Kisah yang memberikan dorongan semangat untuk berkiprah di kelompok ternak. “Melihat ternak-ternak ini jadi inget waktu bekerja. Dulu sehabis gajian, saya belikan orang tua saja 2 ekor kambing. Due ekor tersebut dipelihara dengan baik oleh orang tua, sampai akhirnya dijual semua. Hasil penjualannya dibelikan sapi, dipelihara dipelihara dijual lagi. Hasilnya dibelikan tanah, sampai sekarang masih ada tanahnya. Saya pingin nanti ternak-ternak ini bisa hasil seperti itu (berhasil)”. Kisah Tugiyem mengingat masa lalunya.

Kisah sukses orangtunya ingin ia wujudkan, ia pernah beternak kambing juga di tahun 2010 namun belum berhasil. Ia banyak belajar di kelompok ini, “Dulu saya waktu melihara kambing, setiap kambing ngembek saya kasih makan, sehari bisa 5 karung karung. Baru tau klo ngasih makan ada waktu-waktunya.” ceritanya tersenyum. Ia merasa banyak pelajaran yang ia dapatkan semenjak bergabung dengan kelompok, ia ingin terus belajar dan membangun mimpinya kembali.

“Saya berharap kelompok ini berhasil. Saya selalu berdoa setiap selesai sholat untuk keberhasilan kelompok ini. Sehingga saya bisa menyekolahkan anak-anak saya”. ungkap Tugiyem penuh harap.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *